Di Manakah Letak Baktiku Ayah…

Cerpen ala santri

Hampir seharian aku menyusuri jalanan sekeliling pasar yang cukup luas.

Pagi tadi aku terlepas dari genggaman ibu, dan akhirnya aku tak dapat menemukan ibu lagi karena pasar yang ramai oleh orang-orang yang membeli kebutuhan di akhir pekan.

Dimana ibu ? badanku sudah letih, tenggorokanku kering dan perutku keroncongan. Langit pun sudah mulai senja. Ku lihat pasar sudah mulai sepi, karena diriku telah letih aku memilih duduk di sudut pertokoan, entah mengapa pelupuk mataku tak dapat membendung kesedihan, seketika tangisku pun  pecah, air mata yang deras mengalir di pipiku.

Sungguh malang nasibku ini seorang gadis kecil yang masih berumur 6 tahun telah terpisah dengan orang tuanya, tak lama kemudian datanglah lelaki tua menghampiriku yang sedang menangis tersengguk-sengguk, lelaki itu menepuk pelan pundakku lalu lelaki tua itu memakai bahasa isyarat, beliau mengajakku agar mau ikut dengannya. Diriku melihat bapak tua itu mengisyaratkan bahasa langit sebentar lagi gelap dan orang-orang akan pulang ke rumah mereka masing-masing. Ku lihat dari raut wajahnya bahwa bapak itu tulus membantuku, bapak itu membawaku dan menuntunku ke sebuah gerobak yang terbuat dari kayu  yang terisi buah-buahan sisa dagangan, baru kali ini aku naik di atas gerobak biasanya ayah mengantarku dengan mobil, setelah sekitar setengah jam perjalanan yang kami tempuh akhirnya kami tiba di rumah bapak tua itu, rumah terpencil jauh dari permukiman warga, rumah tua yang terbuat dari bambu dan sudah reot, diriku belum percaya dengan kenyataan ini, bagiku ini seperti hantu.

Hari-hari ku jalani, namun hatiku masih dilipati kesedihan.

Namaku adalah “Faradisa” orang tuaku termasuk yang berada dan aku selalu di manja dengan ayah dan ibu, sekarang mereka semua tidak ada lagi disampingku, hanya bapak yang baik hati ini sekarang yang ku miliki….

Waktu berputar begitu cepat merubah keadaan hidupku, kini ku memanggil bapak tua itu dengan panggilan “ayah”, seperti biasanya aku pergi menemani ayah berdagang karena bila di rumah sendirian aku merasa takut dan tidak ada teman untuk ku ajak bermain, terkadang aku sering merasa sedih dengan keadaan ini, bila dagangan tidak laku terpaksa aku harus memakan buah dagangan ayah, sedangkan ayah memilih menahan lapar agar dagangan tidak berkurang banyak, aku pun tidak peduli dengan kondisi ayah yang kelaparan yang penting diriku kenyang tanpa memperdulikannya.

Bulan demi bulan berlalu, tahun pun berganti, umur ayah semakin tua dan mulai sakit-sakitan, terkadang aku sering ngedumel dengan keadaan ayah yang sering tidak ku fahami dengan apa yang ia inginkan. Apabila badan ayah sakit ia hanya bicara a, u, a, u tidak memperagakan sesuatu. Maklum, ayah seorang yang bisu, akhirnya aku tinggalkan ayah sedangkan aku pergi keluar rumah untuk bermain sendirian tidak jelas.

Suatu ketika kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk di makan. Akupun tidak bisa memetik buah di kebun, buah dagangan pun telah habis untuk makan kami sehari-hari apabila beras habis, dengan terpaksa ayah pergi ke kebun dan mengambil segala hasil yang dapat di panen, aku sering berkata kepada ayah,

“Makanya ayah jangan sakit, manja banget sama Faradisa…!”

Terkadang pula ayah hanya mengelus dada, dengan badan yang masih sakit ayah kembali bekerja, ketika sedang berjalan menuju pasar di pagi hari aku selalu menatapi teman-teman yang umurnya sebaya denganku sedang menggendong tas, memakai baju merah putih, memakai sepatu bagus, berjalan ramai-ramai untuk pergi ke sekolah atau diantar dengan orang tua mereka dengan motor ataupun mobil.

Sekarang umurku menginjak 10 tahun, sudah  4 tahun aku  tidak hidup bersama orang tua kandungku, aku tidak bisa sekolah … sedih sekali rasanya.

Kini aku tumbuh menjadi anak yang kurang pergaulan dan tidak berpendidikan, aku tahu itu, aku belum bisa menulis dan membaca, aku tahu ayah miskin, seharusnya aku sadar … dia hanyalah ayah angkatku, aku ingin sekolah ya Allah … walaupun ayah seorang yang miskin dan sakit-sakitan ayah tetap menjaga sholat 5 waktunya, ayah terkadang menyuruhku untuk sholat tapi aku selalu menolaknya, aku tidak tahu bagaimana caranya sholat, ayah mengajariku namun aku mengelak,

“ah … nggak mau ah … nyapek-nyapekin!”

atau

“Faradisa mau sholat kalau punya mukena .., masa sholatnya pake sarung kayak maling…!”

Beberapa minggu  kemudian ayah pergi ke pasar membawa buah yang lebih banyak dari biasanya, minggu setelahnya ayah membelikanku mukena putih, aku senang dan akhirnya aku mau belajar sholat tapi hanya gerakan badan saja ayah bisu tak bisa bicara jadi aku tidak tahu bagaimana do’a sholat, setiap sholat aku hanya berkata,

“Ya Allah..pertemukan Faradisa dengan ayah dan ibu kandungku..ammiin”.

Kali ini keadaan ayah mulai membaik, selang beberapa minggu kemudian ayah batuk-batuk dan tak jarang mengeluarkan darah dari mulutnya, namun ayah tetap saja melanjutkan bekerja, apabila ayah tidak bekerja bagaimana lagi kami dapat makan, karena ayah satu-satunya tulang punggung di rumah ini, hari ini aku ikut ayah lagi bekerja, setiap hari kami berpindah tempat, biasanya kami berjualan di depan kios-kios dan pertokoan, tak jarang dari mereka mengusir ayah dan akhirnya sering sekali aku berlari untuk tidak mendengar amarah dari sang pemilik toko, kemudian ayah berpindah tempat berjualan di trotoar aku mendatangi ayah, wajah ayah masih tegar seperti menyembunyikan kesedihan.

Siang harinya, ayah pindah tempat di depan sebuah toko yang telah tutup, gerimis air hujan mulai turun, langit pun mendung tidak lama kemudian turun hujan yang deras mengguyur bumi .. hujan sangat deras sedangkan ayah hanya membawa 1 payung dan itupun telah rusak, tak ada tanda-tanda hujan akan reda. Ayah mengajakku untuk pulang dengan payung yang kecil dan telah rusak itu, akupun marah dengan ayah,

“Gimana Fara bisa pulang ayah … ini payungnya rusak nanti aku basah kuyup!!!”

Akhirnya ayah memilih untuk mengalah dan memberikan payungnya untukku agar aku bisa pulang, akupun berjalan melawan derasnya air hujan sekitar 1 jam aku berjalan akhirnya sampai di rumah, kemudian aku langsung mengganti bajuku yang basah kuyup, perutku keroncongan sekali sejak pagi aku belum makan, hanya ada singkong rebus di dapur,

“ahh…biarlah yang penting aku makan,” gumamku

Setelah makan aku merasa ngantuk yang amat sangat akhirnya aku tidur di atas ranjang kayu yang reot, dimana-mana genting rumah bocor, hujan masih deras ku coba untuk memejamkan mata, akhirnya mataku terpejam, CLETAR!!….CLETAR!!.. baru sekitar 5 menit, suara halilintar membangunkanku, tiba-tiba aku teringat dengan ayah… tanpa basa basi aku langsung berlari melawan derasnya air hujan untuk menyusul ayah, langit mulai gelap sebentar lagi malam akan tiba.

Akhirnya, tidak lama waktu yang kugunakan aku pun sampai, sudah tidak ada orang lagi, toko-toko telah ditinggalkan oleh para pemiliknya, aku berteriak memanggilnya,

“Ayah…!Ayah..!”

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong pertokoan, terlihat dari jauh ada seseorang dibawah koridor sedang tertidur pulas, sepertinya ayah. Akhirnya, akupun berlari menghampiri sosok yang sedang terbaring itu, sesampainya dihadapanku aku langsung membangunkan ayah,

“Ayah bangun ayah..!!”

“Ayo kita pulang..”

Badan ayah tak bergerak sama sekali, kemudian aku memegang tangan ayah, tangannya dingin sekali bibir ayah sudah membiru seperti kedinginan, aku takut kehilangan ayah.

“Ayah…! bangun ayah..!”

Ku tempelkan tanganku dihidung ayah, tidak ada nafas yang berhembus, tiba-tiba air mataku tumpah tak dapat terbendung, ternyata ayah telah pergi meninggalkanku….

”Ayah… jangan tinggalkan aku ayah… Ayah… Ayah!!!! Ayah maafkan aku….”

 

Astrie Zahrotul Athirah

X IPA Grade 2016/2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *